KNOWING YOUR MINI SERIES | 3 >> Engines, Engines PDF Print E-mail

 

KAPASITAS

Dalam perjalanan hidupnya, Mini dipenuhi mesin dari berbagai kapasitas, namun semuanya selalu merupakan mesin tipe A-series dari BMC yang pertama kali dirancang tahun 1948 dan diperuntukkan sebagai mesin standar Austin A30. Mini memulai hidupnya dengan mesin 850cc, karburator 1,25” dan berakhir dengan mesin 1300cc, multi-point injection.

Mini memang ditakdirkan untuk memakai mesin A-series. Instruksi bos BMC pada waktu itu, Leonard Lord, adalah bahwa Alec Issigonis boleh merancang mobil sesuka hatinya, namun panjangnya tidak boleh lebih dari 3 meter, dan harus memakai mesin yang sedang diproduksi saat itu. Mesin dengan dimensi fisik paling kecil pada saat itu hanyalah mesin A-Series Austin A30. Percobaan pertama ialah dengan mencoba memotong mesin ditengah-tengah agar menjadi mesin 2-silinder. Hal ini dimaksudkan agar posisi tradisional mesin Utara-Selatan dengan radiator di depan dapat dimungkinkan. Namun mesin 2-silinder tersebut ternyata sangat kasar dan tidak mempunyai tenaga yang diharapkan Issigonis.

Layout mesin A-series untuk Mini

850cc

Akhirnya, mesin A-series tersebut tetap dipertahankan sebagai 4-silinder, namun posisinya menjadi melintang dan radiator menempati posisi di samping. Posisi ini bertahan selama 36 tahun tanpa perubahan berarti! Kapasitas awalnya adalah 948cc, namun dalam mobil produksi kapasitasnya dikurangi 100cc sehingga menjadi 850cc karena mesin 948cc tersebut dianggap terlalu kencang dan terlalu bertenaga (!). Mesin ini pun unik karena desain gearbox-nya yang terdapat persis dibawah blok mesinnya, sehingga oli mesin menyatu dengan oli kopling.

Mesin 850cc ini (kapasitas sebenarnya 848cc) bertahan dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1979, karena pada tahun 1980 mesin A-series mengalami perubahan desain sedikit sehingga menjadi mesin A+ series.  Mini pertama dengan transimisi otomatis juga diperkenalkan dengan mesin 850cc ini pada tahun 1964. Karburator yang digunakan adalah karburator SU HS2 (1,25”), dan mulai tahun 1974 menjadi SU H4 (1,5”).

Model yang menggunakan: Mini, Mini850, Mini City, Mini Van, Mini Pickup, Mini Moke

1000cc

Mesin 1000cc (998cc) pertama untuk Mini pertama kali muncul pada tahun 1967, seiring dengan diluncurkannya model facelift Mk2. Meskipun demikian, mesin ini sudah sejak lama digunakan pada Wolseley Hornet / Riley Elf dan Mini Cooper. Mesin 1000cc ini kemudian menjadi mesin yang paling umum digunakan pada Mini. Kapasitas ini bertahan sejak tahun 1967 sampai tahun 1993. Karburator yang digunakan adalah karburator SU HS2 (1,25”), dan mulai tahun 1974 menjadi SU HS4 (1,5”).

Model yang menggunakan: Mini, Mini1000, Mini Van, Mini Pickup, Mini Moke (Australia), Mini Cooper, Mini Clubman, Mini City E, Mini HL, Mini HLE, Mini Mayfair

1100cc

Mesin 1098cc ini merupakan salah satu mesin yang langka di Mini. Aslinya hanya dipakai di Mini Clubman antara tahun 1975 sampai tahun 1980. Meskipun demikan, mesin 1100cc ini juga dipakai di mobil-mobil BMC lainnya seperti Morris 1100. Mini 20th Anniversary Special Edition menjadi satu-satunya Mini hidung bundar yang memakai mesin 1100cc ini.

Model yang menggunakan: Mini Clubman, Mini Clubman Estate, Mini Moke (Australia), Mini 20th Anniversary Special Edition

1300cc

Mesin ini pertama kali muncul sebagai mesin Mini Cooper S 1275. Namun pada tahun 1969 juga dipakai di Mini 1275 GT dengan tenaga yang lebih rendah daripada Cooper S dan hanya memakai satu karburator SU (HS4, 1,5”). Pada tahun 1993, mesin 1275cc ini menjadi standar Mini (memakai karburator SU HIF38, 1,5” untuk Mini standar, dan HIF44 1,75” untuk Mini Cooper). Mesin ini kemudian juga dilengkapi sistem Injeksi untuk Mini Cooper sejak tahun 1991, dan menyusul Mini standar memakai sistem injeksi sejak 1994. Pada tahun 1996, mesin ini dirombak agar mampu menggunakan sistem multi-point injection dan posisi radiator diubah ke bagian depan mobil. Meskipun demikian, mobil-mobil untuk pasar Jepang tetap menggunakan radiator samping dan injeksi Single-point karena terdapatnya sistem AC.

Model yang menggunakan: Mini Cooper S, Mini 1275 GT, Mini Cooper (1990-2000), Mini Sprite, Mini Mayfair.

Mesin-mesin Mini Cooper

Mini Cooper harus diberi tempat tersendiri karena variasi mesinnya yang gila-gilaan. Pertama kali muncul adalah dengan mesin 997cc yang tidak lama kemudian diubah sedikit menjadi mesin 998cc yang lebih stabil dan lebih bertenaga. Mesin 998 ini menjadi dasar Mini 1000 di kemudian hari.

Kemudian muncul Trio Cooper S dengan mesin-mesin yang langka. Pertama adalah Mini Cooper S dengan mesin 970cc. Mesin ini hanya dibuat 1000 buah. Kemudian Mini Cooper S 1071cc yang juga terbatas jumlahnya. Yang paling umum adalah Mini Cooper S 1275cc. Semua mesin Mini Cooper menggunakan karburator ganda SU (HS2 ganda, 1,25”) dan untuk Cooper S, mempunyai tangki bensin ganda.


A-SERIES dan A+ SERIES - SPi dan MPi

Mesin A-series mempunyai asal sejak tahun 1948. Pertama kali dimaksudkan sebagai mesin standar bagi Austin A30, mesin ini akhirnya dipakai di Mini, Morris Minor, Morris 1100/1300, Austin Maxi, dan Austin Metro. Pada tahun 1980, bersamaan dengan diluncurkannya Austin Metro, mesin A-series mengalami sedikit perbaikan dan namanya menjadi mesin A+ series. Perubahannya dapat dilihat terutama pada blok mesinnya, dimana terdapat tulang-tulang tambahan yang digunakan untuk memperkuat konstruksi mesin. Perubahan lainnya adalah gearbox yang berubah menjadi tipe Verto dengan batang as dari master bawah yang lebih pendek.

Verto (kiri) dan Pre-Verto (kanan)

Perubahan-perubahan yang dimaksudkan untuk Austin Metro ini juga turut diaplikasikan kepada Mini. Bahkan Mini pada akhirnya hidupnya lebih lama dibandingkan Metro.

Pada tahun 1991, mesin ini mendapat perubahan yang cukup berarti, penambahan sistem injeksi. Sistem ini, dikenal dengan nama Single-Point Injection atau SPi, menggunakan injektor tunggal yang menyemprotkan bensin ke ruang bakar dan konsumsinya diatur oleh komputer alias ECU. Hebatnya, konsumsi bensin antara mesin injeksi dengan mesin karburator kurang lebih sama, bisa mencapai 1ltr/17km. Ini membuktikan bahwa desain mesin A-series merupakan desain mesin yang sangat efisien dan efektif. Cukup hebat untuk mesin rancangan tahun 40-an!

Mobil-mobil dengan sistem SPi ini pada umumnya bisa diubah menjadi sistem karburator, cukup dengan mengambil intake manifold dan unit injektornya. ECU dapat tetap dipakai sebagai awal untuk starter dan kontrol pompa bensin elektrik, namun dengan sedikit mengubah pengabelan, ECU dapat diambil.

Pada tahun 1996, mesin Mini mengalami perubahan dari sistem SPi menjadi sistem MPi atau Multi-point Injection. Pada mobil-mobil MPi, terdapat 2 injektor bensin. Yang paling kentara adalah pemindahan tempat radiator dari samping ke depan. Hal ini dilakukan karena peraturan lalu lintas Eropa yang mengharuskan tingkat kebisingan mesin yang rendah. Dengan pemindahan radiator ke depan, dan menggunakan kipas elektrik, tingkat bising dapat dikurangi. Untuk pasar Jepang, radiator tetap disamping karena terdapat kompresor AC yang mengurangi ruang di depan mesin. Mobil-mobil pasar Jepang juga tetap menggunakan injektor tunggal, meskipun hal ini kurang diketahui alasannya.

Mesin MPi Mini di ruang mesinnya

Selain itu, mobil-mobil MPi juga ditandai dengan tidak digunakannya lagi delco atau distributor, dan tidak adanya coil standar. Ini alasannya mesin-mesin MPi disebut juga dengan nama Distributorless. Di sekitar tempat distributor dulu dipasang filter oli yang langsung menempel pada blok mesin (tidak lagi melalui pipa besi seperti dulu).  Coil pun berubah dari tipe bulat menjadi kotak dan pengapian langsung diatur oleh ECU. Hal ini menyebabkan mobil-mobil distributorless tidak dapat diubah menjadi mesin karburator karena segala aspek mesin sudah diatur oleh ECU, mulai dari konsumsi bensin, tingkat kecepatan mesin, sampai pengaturan pengapian dan nach-voor timing.

Pada mobil-mobil Injeksi, kebanyakan orang langsung menyalahkan ECU apabila mobilnya bermasalah. Padahal, pada umumnya ECU jarang bermasalah, dan problemnya lebih berujung pada sensor-sensor yang rusak. Ada banyak sensor di mobil injeksi, seperti Air Temperatur Sensor di filter, Lambda Sensor di manifold, Water Temperature Sensor di blok mesin, dan Crankshaft Sensor di ujung gearbox. Agak susah untuk mendiagnosa secara manual, dan sebaiknya mempunyai komputer pemeriksa agar bisa diketahui secara pasti kerusakan yang terjadi. Sensor-sensor memang benda yang serviceable, artinya harus diganti secara berkala seperti fanbelt atau filter oli, namun rentang waktunya cukup lama, sekitar 5-10 tahun penggunaan.

 

Newsflash

Jalan Bareng dan Camping di Garut

Bulan Oktober 2010 JMC merencanakan jalan bareng dan camping ke Garut, Jawa Barat. Acara ini sekaligus untuk halal bihalal JMC. Jangan ketinggalan infonya di milis JMC....!

 

Kopdar dan Buka Bersama JMC 

Kopi darat anggota JMC dan Buka Puasa Bersama di Parkir Timur Senayan, Minggu 29 Agustus 2010 jam 16.00 WIB.